Friday, September 26, 2014

REPOST: Meninjau Kembali Datangnya Kesempatan; Kejar atau Berhenti?!

Di dalam hidup, kita pasti pernah merasa titik di mana ada kesempatan dan peluang datang. Seringkali kita diajarkan oleh orang tua, guru, mentor atau pembimbing bahwa “kesempatan tidak datang dua kali”. Jika curhat kepada teman pun, kalimat-kalimat “Kapan lagi Bos?! Sikat lah! Beruntung banget Lu!" sering terlontarkan ketika ada kesempatan yang menghinggapi diri kita. 
Ya begitulah.. Itu kondisi riil yang seringkali ditemui ketika momentum datang yang disokong adanya harapan dari diri kita akan datangnya momentum itu.
Namun, apakah keadaan ini selalu begini template-nya? Apakah memang yang namanya kesempatan, peluang dan momentum itu harus disikat? :)
Saya coba menawarkan cara lain dalam memandang kondisi ini :)
Penguasaan Diri
Menguasai diri kita sendiri itu penting, sangat penting. Karena pada dasarnya, hanya diri kita sendiri yang sebenar-benar tahu apa yang ada pada diri kita, bukan orang lain.
Pada dasarnya tak ada orang-orang yang pernah benar-benar tahu tentang diri kita. Ada rahasia (yang mungkin aib) yang kita simpan mungkin. Hehe
Ketika kesempatan datang, menguasai diri menjadi hal yang penting. Hal ini akan menciptakan kondisi tenang dan memberi kemampuan melihat kesempatan dari segala sudut secara menyeluruh. Melihat secara menyeluruh adalah mencoba mencari tidak hanya poin positif dari kesempatan yang muncul, namun juga poin negatifnya. 
Nah melihat point negatif ini sering terlupakan jika kita tidak bisa menguasai diri kita sendiri ketika kesempatan tiba.
Jalan
Tak jarang juga kesempatan yang hadir bisa menimbulkan perubahan signifikan terhadap jalan hidup yang akan kita pilih selanjutnya.
Bagi sebagian orang mungkin bisa hidup dengan cara mengalir saja. Namun, ada juga yang tidak mau menjalani hidup dengan mengalir. Untuk yang jalani hidupnya dengan mengalir, perubahan jalan karena ada kesempatan bisa jadi tidak masalah. Namun belum tentu hal ini bisa diterima oleh yang hidupnya tidak mengalir.
Nah, meninjau korelasi antara kesempatan dengan jalan hidup yang ingin ditempuh juga merupakan poin yang ingin saya tonjolkan dalam cara pandang ini. 
Memang benar.. Ada banyak orang yang hidupnya berubah drastis ketika kesempatan datang dan jalani dengan hidup yang mengalir.
Namun, tidak semuanya begitu kan? Banyak juga contoh yang ketika memaksakan kesempatan yang datang namun itu tidak sesuai, jadinya gagal :)
Orang Lain
Ini point yang juga ingin saya coba sampaikan. Tentang orang lain yang ada di sekitar kita. Seringkali kesempatan yang datang baik untuk diri kita, namun tidak baik untuk orang-orang yang di sekitar kita. Orang-orang yang dekat, orang-orang yang dicintai ataupun orang-orang yang menaruh harap kepada kita. Faktor ini rasanya juga baiknya mulai dipikirkan.
Rasanya terlalu mulia ya mikirin orang lain? Menurut saya tidak..
Saya rasa ini tentang tanggung jawab. Suka atau tidak, ada banyak orang yang berkorban untuk kita dalam mencapai apa yang kita inginkan. Disadari atau tidak, bisa jadi kesempatan yang datang kepada kita justru disokong sangat kuat oleh orang-orang lain yang ada di sekitar kita.
Bukan karena diri kita sendiri? :)
Reposisi
Setidaknya cara pandang ini yang akan saya gunakan untuk menentukan langkah yang akan diambil ke depan. Pada akhirnya saya sadar, AllahSWT yang ada di balik ini semua. Kita hanya sedang ber-drama di dunia ini :)
Setidaknya kita bisa punya sebuah perspektif lain untuk meninjau kembali datangnya kesempatan, yakni bukan hanya tentang mengejar kesempatan, namun juga berhenti kala kesempatan itu hadir? Agar kita bisa mereposisi kembali diri kita. Hehe

Sumber: http://faldomaldini.tumblr.com/post/98220131311/meninjau-kembali-datangnya-kesempatan-kejar-atau

Sunday, September 14, 2014

REPOST: Merangkai Jalan Karya Sang Aktivis

Merangkai Jalan Karya Sang Aktivis
Jika berbicara tentang dunia aktivis, tentu sebutan ini selalu melekat pada mahasiswa yang aktif di dunia kampus. Sebenarnya keaktifan mahasiswa di kampus ada bermacam-macam. Ada organisasi kemahasiswaan seperti BEM, organisasi keagamaan, organisasi ekstra kampus, kelompok minat dan bakat, kelompok kelimuan, ataupun komunitas lain yang banyak hadir dewasa ini di lingkungan kampus. Namun, sebutan “aktivis” suka tidak suka dan terima tidak terima lebih melekat untuk mahasiswa yang menceburkan dirinya untuk aktif ke dalam organisasi mahasiswa yang bernafaskan gerakan, dalam hal ini Badan Eksekutif Mahasiswa.
Mimpi
Kala menjadi pengurus BEM, teman-teman (yang merasa) dirinya aktivis menjalani hidup dengan mimpi. Memang tidak bisa disamaratakan di semua pengurus -yang masuk BEM tidak semua suka pergerakan. Namun, semuanya tentu memiliki mimpi yang besar untuk Indonesia. Di kepalanya selalu terngiang ide ide (yang bisa saja dominan dengan kritik dan geram) bahwa “Indonesia harusnya gini! Indonesia tidak boleh begitu!”.
Mimpi inilah yang senantiasa dibawa hidup. Bagus sekali jika mimpi ini terus dipegang, apalagi bisa dipelihara. Karena jika ada aktivis tanpa mimpi ciptakan dunia sekitar yang lebih baik, lebih baik berkaca kembali. Dari mimpi ini lah visi hadir, aksi dirancang, program dibuat dan karya dihasilkan. Dari mimpi ini  pula semangat terpelihara.
Limit
Namun, usia untuk berkontribusi di kampus juga tidak panjang. Suka tidak suka, sang aktivis harus menghadapi dunia nyata dan harus segera tersadar. Mimpi yang dipunya akan bertemu (bahkan tak jarang akan terbentur) dengan realita. Ada beban studi yang harus dirampungkan sebagai pertanggungjawaban kepada orang tua. Ada kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi untuk jalani hidup. Ada kebutuhan ini dan itu yang lain yang membuat sang aktivis harus cepat tersadar bahwa perjuangannya akan menemui realita.
Batasan-batasan ini yang suka tidak suka harus dihadapi dan tidak boleh dihindari. Seorang aktivis yang memiliki niat kuat, tentu akan berusaha bertahan. Di kampus masih bisa berteriak lantang sambil menantang, tapi di dunia pascakampus belum tentu bisa begitu. Di kampus masih bisa kritik ini itu, tapi di dunia pasca kampus belum tentu pula hal itu mudah dilakukan.
Di kampus masih bisa berontak, pasca kampus? Lagi-lagi, terkadang ada realita yang menjerat.
Lawan!
Sudah menjadi takdir bagi seorang aktivis untuk terus hidup dalam mimpi dan katakan “lawan” pada hal yang tidak benar menurutnya. Pun juga dengan ketika memasuki dunia pasca kampus, sang aktivis pun harus terus membawa semangat lakukan perlawanan agar tidak takluk pada keadaan.
Namun, tentu perlu digarisbawahi, melawan bukan saja tentang mengangkat toa (pengeras suara-red), hadapi water cannon, adu kuat border saja, tetapi juga tentang bagaimana bisa “melawan dengan cantik” sesuai dengan kondisi yang ada. “Melawan dengan cantik” inilah yang perlu disadari oleh teman-teman aktivis sehingga jalan karya yang ingin ditorehkan terus berlanjut.
Untuk “melawan dengan cantik” ini, sebenarnya tidak ada platform baku nya. Tidak ada organisasi seperti BEM yang menampung mantan aktivis. Mau tidak mau, sang aktivis harus berpikir keras untuk membentuk pola yang sesuai dan cocok dengan dirinya sendiri. Pola antara satu orang, bisa jadi berbeda dengan seorang lain. Baiknya memang begitu, agar sang aktivis tumbuh secara natural, senantiasa menjaga semangat intelektual organik yang senang untuk tumbuh dan belajar.
Namun, agar terus melawan, menurut saya modal yang dibutuhkan adalah sama saja bagi sang aktivis, tidak peduli siapa dia dan dari mana asalnya. Modal-modal tersebut antara lain:
1. Kepahaman Ilmu
Tidak ada batasan pemahaman jurusan kala studi ketika ingin menjadi seorang aktivis. Apapun jurusan yang ditempuh selama kuliah, itu bisa membuat seorang mahasiswa menjadi seorang aktivis. Baiknya memang dibuang jauh jauh pikiran hanya sebuah bidang ilmu tertentu yang bisa menjadi aktivis dengan baik.
Setiap orang bisa belajar dan kerja keras untuk paham. Pemahaman akan ilmu ini menjadi penting untuk seorang aktivis karena inilah yang menjadi amunisi utama dirinya untuk berkarya. Lebih mengagumkan lagi jika seorang aktivis memiliki hard skill yang menjadi poin plus yang dimilikinya.
2. Kekuatan Finansial
Suka tidak suka, ketika selesai dari dunia kampus, kebutuhan akan finansial merongrong mahasiswa yang baru lulus, termasuk sang aktivis. Kekuatan finansial jangan sampai diabaikan karena kita harus mengakhiri era-era seorang aktivis yang suka berperan sebagai broker dengan memanfaatkan jaringan yang dipunya. Jaringan penting, tapi jangan dieksploitasi untuk hal yang menguntungkan diri sendiri dengan sembarangan.
Untuk membangun kekuatan finansial, ada macam-macam caranya. Bisa bekerja atau bisa membuat lapangan kerja. Bagi seorang aktivis, baiknya ia menyadari bahwa tidak semua kerja yang “pas” untuknya. Sebenarnya tidak salah selama uang yang diperoleh itu halal, tapi jangan sampai seorang aktivis mengkhianati prinsip perjuangannya dengan mencari ranah kerja di tempat yang tidak tepat. Hal ini memang penuh perdebatan, tapi rasanya penting disampaikan di sini karena jika menuai uang di tempat yang tidak sesuai prinsip, itu bisa menggerus semangat dan lupa akan mimpi.
3. Berjejaring
Jaringan itu berkah, tapi ia bagai pisau bermata dua. Jika salah digunakan, ia bisa mengancam diri sendiri yang mengunci untuk berkarya. Berjejaring yang dimaksudkan di sini adalah antara aktivis satu dan yang lain terus saling berkomunikasi untuk berteman. Ada sahabat yang akan mengingatkan jika sudah mulai “oleng”. Ada sahabat yang membantu jika kesusahan. Tentunya sahabat sesama berjuang yang memiliki mimpi yang sama. Berjejaringnya para aktivis ini tentu saja penting megingat para penjahat pun senantiasa berjejaring. Kebaikan yang tak terstruktur kuat akan dihancurkan oleh kejahatan yang disusun rapi.
4. Karya Sosial
Sebagaimana yang sering dilakukan sang aktivis kala di kampus, saat di luar kampus sang aktivis pun baiknya terus menjaga idealismenya dengan memiliki sebuah karya sosial. Sebuah bentuk kontribusi yang tidak harus besar, tapi bisa terus mengasah empati yang dipunyai olehnya. Dengan karya sosial ini lah sang aktivis akan terus mengisi semangat-semangat perjuangannya. Dengan karya sosial ini pula sang aktivis bisa menemukan kenyamanan dirinya, saat ia menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang sekitarnya.
Sadar atau tidak, ada beban yang besar jika seorang memilih menjadi aktivis. Baiknya semua teman-teman mahasiswa yang aktif di dunia kemahasiswaan, terlebih BEM, menyadari hal ini. Karena sayang sekali rasanya jika semangat nge-BEM hilang dengan berakhirnya kepengurusan.
Ada mimpi yang harus kita tunaikan ~
Ada jalan panjang yang harus kita tempuh ~
Dan sang aktivis harus senantiasa merangkai jalan karya nya ~
Hingga suatu hari Indonesia memanggil dirinya untuk berkarya ~
Kekerenan ini belum berakhir.
Sumber: https://www.selasar.com/politik/merangkai-jalan-karya-sang-aktivis

Sunday, July 20, 2014

REPOST: Jenis-jenis Lupa yang Masih Ditemukan pada Kaderisasi

Jenis-jenis Lupa yang Masih Ditemukan pada Kaderisasi di ITB

July 17, 2014 

Disclaimer
Tulisan berikut hanya merupakan opini pribadi semata, tidak perlu sakit hati berlebihan ketika/setelah membacanya, jika tersentil cukup bilang "aw"

Introduction
Nama boleh Institut Teknologi tapi buat yang belum pernah kuliah di ITB mungkin ga tau kalo kampus gajah ini punya spesialisasi lain selain sains dan teknologi. Ya.. bisnis dan seni juga ada di ITB. HEH BUKAN ITU MAKSUDNYA TAPIII! xD

Spesialisasi lain yang saya maksud dalam tulisan ini adalah kaderisasi. Mayoritas jurusan S1 yang berlokasi di satu jalan, Jalan Ganeca 10, membuat iklim kemahasiswaan ITB agak berbeda dengan kampus lain. Kemudahan mengumpulkan teman-teman satu kampus dari jurusan lain ini membuat berbagai jenis organisasi serta kegiatan terpusat menjadi lebih hidup dan berkembang. Jumlah unit kegiatan mahasiswa (sejenis ekskul sekolah) di ITB mencapai lebih dari 80 jenis. Belum lagi himpunan mahasiswa jurusan yang berjumlah 31 buah (bisa dilihat di sini dan di sini). Masing-masing organisasi memiliki jenis kaderisasinya sendiri. Jika hal tersebut ditambah dengan masa orientasi sewaktu menjadi mahasiswa baru dan kaderisasi lain-lain seperti DDAT atau kaderisasi untuk menjadi panitia acara seperti menjadi panitia OSKM dan juga SatGas Wisuda, tentu tidak mengherankan bahwa banyak mahasiswa ITB yang sudah sangat berpengalaman di bidang kaderisasi.

The Forget; Forgot; Forgotten
Namun meskipun sudah banyak berpengalaman menjadi kader atau pengkader banyak hal yang secara sadar atau tidak sadar kita lupakan, baik yang berhubungan langsung dengan kaderisasi ataupun hal lain yang lebih penting dari itu. Mengambil momen tahun ajaran baru yang sudah di depan mata dimanaber bagai jenis kaderisasi akan dimulai di Kampus Ganesha, sebagai hiburan dan pengingat saya akan coba kemukakan jenis-jenis lupa yang masih sering ditemukan dalam kaderisasi di ITB, ini dia!

1.      Lupa ngader
Yang namanya anomali memang ada dimana-mana. Di kampus penuh kader mengkader ini pun masih ada juga yang kurang serius atau bahkan tidak sama sekali melakukannya. Hal ini menimpa beberapa unit kegiatan mahasiswa jenis olahraga atau bela diri, entah karena lupa atau memang tidak peduli.. Hasil buruknya pun sangat terlihat. Banyak dari lembaga ini yang kesulitan  di akhir kepengurusan karena tidak ada penerus. Jadinya keder sendiri kan..? Akibatnya tidak jarang ketua lembaga disana menjabat sampai dua, tiga periode, dan bahkan lebih. 

Ilustrasi :
foto sudah disetujui oleh (pacarnya) pemilikfoto sudah disetujui oleh (pacarnya) pemilik

Ingatlah bahwa pemimpin itu harus dibentuk dan diciptakan, bukan sekedar lahir begitu saja. Paling tidak jika memang tuntutan lembaga tidak membuat dibutuhkannya suatu bagan organisasi, tetap lakukan kaderisasi ke bakal-bakal calon pemimpin selanjutnya agar regenerasi tetap bisa berjalan. Ingat bahwa ini di kampus dan waktu kita di kampus adalah terbatas sehingga seorang pemimpin organisasi kampus harus dengan matang memikirkan siapa penerus-penerus selanjutnya agar tidak menghambat keberlanjutan organisasi.

2.      Lupa diri (kebanyakan acting)
Kaderisasi jurusan di kampus tidak terkecuali di ITB memang sudah sangat kental dengan budaya ospek starring senior-senior jutek. Sangat dapat dimengerti sih memang prinsip olah rasa diperlukan untuk diterapkan di kaderisasi, akan tetapi jika melupakan esensinya hal ini juga membuat orang jadi lupa diri.

Tidak jarang juga kisah drama ospek ini dibuat serahasia mungkin supaya junior tidak mengetahui jalan ceritanya bahkan sampai tidak mengindahkan satupun junior yang meng-add akun media sosial mereka. Mereka jadi lupa bahwa mereka sebenarnya adalah senior-senior baik hati yang peduli dan ingin membantu junior karena keasyikan dengan lakon drama ospek. Wah yang begini sih sebenarnya sangat kontra-produktif bagi pengkader yang punya niatlain untuk mencari jodoh. Masa mau nyari jodoh junior tapi mengenalkan diri sendiri yang sedang menggunakan topeng?

nah kalo kamu pedekate sama junior pake topeng cosplay kamen rider sih gapapa, malah dijamin manjur! etapi jangan pas osjur juga, di j-fest ajanah kalo kamu pedekate sama junior pake topeng cosplay kamen rider sih gapapa, malah dijamin manjur! etapi jangan pas osjur juga, di j-fest aja

3.      Lupa untuk beradaptasi 
Ngapalin nama nim dites kalo salah dihukum,jalan rame-rame pake atribut kayak mau kampanye partai, pake nametag besar didada, baris berbaris sambil dengerin orang orasi dan diteriaki orang sekitar, tanya jawab dengan terror… Masih banyak metode-metode tersebut ditemukan di osjur-osjur himpunan.

Ketika suatu metode banyak dipakai maka kita bisa berpendapat mungkin memang metode tersebutlah yang paling sesuai untuk saat ini. Tapi apakah memang begitu keadaannya? Coba lah tengok quotes dari seorang aktivis nasional yang meninggal pada tanggal 16 Desember ini (ngga kok, meskipun itu tanggal lahir gw, tapi gw bukan titisannya deh sumpah…)


Yang paling menyedihkan adalah ketika ada ide baru untuk ospek yang menghilangkan unsur-unsur perpeloncoan ini, komentar yang keluar dari beberapa senior adalah komentar sinis kecewa seperti

“Yah masa ospek mereka gitu doang? Lah kita dulu diginigitutiniwinibitiin! Masa mereka gitu doang enak banget!”

atau

“Wah ga bisa dong sob itu kan budaya ospek kita yang udah dari dulu begitu masa lo mau ngilangin budaya kita!?”

"WHAAAAT???""WHAAAAT???"

HELLO BROOOOOOOO. Masa ga tau sih kalo ga semua budaya itu harus dijaga?! Terkadang kita harus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan meninggalkan budaya yang buruk atau tidak lagi sesuai untuk maju. Apakah kalian tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang sebuah sejarah yang amat luhur. Terdapat sebuah negeri yang penduduknya memiliki budaya pendendam, gemar mengubur anak perempuan hidup-hidup, pemabuk, dan penjudi. Kemudian datang seorang Pemuda yang tidak satupun orang menolak gelarnya sebagai orangyang dapat dipercaya, ia mengajarkan sebuah ajaran yang kemudian diterima oleh penduduk tersebut. Mereka pun pelan-pelan meninggalkan budaya-budaya buruk tersebut sesuai panduan ajaran tersebut untuk maju. Sejarah mencatat ajaran tersebut pun akhirnya menyebar hingga penjuru dunia dan masih ditaati oleh berbagai elemen masyarakat hingga saat ini.

Organisasi kampus adalah organisasi yang sangat dinamis. Orang-orang di dalamnya harus selalu pintar memutar otak terhadap perubahan yang terjadi. Mereka yang dapat beradaptasi adalah pemenang, mereka yang sudah terlalu nyaman dengan status quo haruslah waspada. Siapa yang tahu perubahan kebijakan rektorat kampus yang dapat mempengaruhi organisasi kampus berikutnya? Sambil merenungi poin ini ada baiknya kita membaca juga sebuah pepatah cina berikut


4.      Lupa kalo butuh

tsundere hmjtsundere hmj

Sudah ada hak dan kewajiban yang berlakupada organisasi kampus seperti himpunan mahasiswa jurusan misalnya salah satunya sebagai anggota himpunan maka ia berhak untuk menggunakan fasilitas sekretariat himpunan atau ketika lulus ia akan berhak untuk diarak juniornya saat wisuda nanti. Kewajiban misalnya mengikuti proses kaderisasi sampai selesai dan mematuhi peraturan yang berlaku.

Dengan mengetahui itu memang seharusnya seorang junior diberikan kebebasan untuk memilih untuk mengikuti atau tidak. Banyak kasus yang terjadi tiap ospek ada saja yang tidak kuat untuk melanjutkannya. Mereka yang merasa tidak nyaman mengikuti ospek pun dengan berani memutuskan untuk bilang pada senior agar izin mengundurkan diri darikaderisasi tersebut. Jawaban senior tentu dapat ditebak, mereka sadar bahwa mereka butuh anggota maka untuk kehilangan satu calon anggota pun mereka enggan. Akhirnya terjadilah adegan bujuk membujuk antara senior dan junior tersebut.

Jika kejadian barusan yang terjadi memang mereka akan ingat bahwa organisasi mereka membutuhkan anggota baru, akan tetapi saat praktek lapangan sepertinya mereka jadi lupa dengan hal itu. Contohnya ya seperti metode-metode yang dipakai kurang memanusiakan para kadernya. Ya masa anak orang diteriak-teriakin ga jelas gitu sambil disuruh baris berbaris, mana dipakein nametag gede-gede lagi emangnya kambing qurban?!

mbeekmbeek 

Ini anak orang lagi masuk organisasi mahasiswa institusi pendidikan sains dan teknologi kan bukan program wajib militer? Ayo dong pengkader diingat, kalian yang lebih butuh penerus loh daripada mereka yang butuh pengalaman organisasi. Penerus himpunan mahasiswa jurusan kan cuma bisa didapatkan pada mahasiswa jurusan yang barumasuk. Lah mereka bisa belajar pengalaman organisasi kan bisa dimana aja malah ga cuma di organisasi internal kampus aja..

5.      Lupa daratan
Dafuq kok lupa daratan sih emang kita kaderisasi dimanaa?!

Eits tenang dulu, lupa daratan disini maksudnya adalah kaderisasi kampus itu kadang bikin pelaku-pelakunya baik pengkader atau kader itu sendiri jadi lupa daratan tempat mereka berpijak. Mereka lupa bahwa daratan tempat mereka melakukan kaderisasi, yaitu kampus, adalah sebuah institusi pendidikan. Sebagai peserta kaderisasi kita juga harus ingat bahwa kita adalah seorang mahasiswa yang bertanggung jawab.

hemm.. bebas deh mbak -_-hemm.. bebas deh mbak -_-

Masalahnya adalah banyak juga ditemukan peserta kaderisasi ini mengikuti kegiatan kaderisasi sampai sangat menyita waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah. Mengerjakan tugas-tugas ospek, kumpul angkatan, menyiapkan interaksi selanjutnya memang terkadang perlu untuk diprioritaskan, tetapi jangan sampai hal tersebut malah mengganggu kitauntuk berprestasi di bidang akademik

6.      Lupa sanak famili
Loh kan justru dengan menghadiri kaderisasi kampus dengan totalitas kita menghargai keluarga baru kita!

Yeah that’s true BUT family that I mean is your REAL family at home

Menganggap teman sekampus seperti menganggap keluarga sendiri merupakan hal yang sangat baik. Saya tidak akan mendebat hal tersebut. Tetapi jangan sampai kita terlalu sibuk karena mengikuti kaderisasi sampai-sampai melupakan keluarga kita di rumah.


Untuk para kader jangan sampai kalian terlalu sibuk dikader senior kalian sehingga kalian melupakan pengkader lain kalian di rumah. Orangtua dan kakak kalian adalah pengkader kalian sejak kecil. Mereka tanpa lelah telah memberi upaya-upaya terbaiknya sehingga terbentuklah seorang siswa yang bisa mengalahkan ribuan mahasiswa terbaik lainnya di seluruh Indonesia saat kompetensi masuk universitas.

Untuk para pengkader ingatlah bahwa selagi kalian sibuk mengkader adik-adik kalian di universitas ada juga adik kalian dirumah yang sedang berjuang untuk berprestasi seperti kakaknya, bantulah dia juga. Jangan sampai kalian berhasil mendidik orang lain menjadi adik-adik ideologis kalian tetapi adik biologis kalian sendiri terbengkalai dan akhirnya hanya menjadi adik biologis semata

7.      Lupa Niat 


Selain untuk Tuhan, ingatlah bahwa kalian mengikuti kaderisasi adalah untuk berkontribusi demi kemajuan organisasi yang akan kalian masuki. Selain untuk Tuhan, ingatlah juga bahwa kalian yang meng-kader anak-anak ini adalah semata-mata untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kalian sebagai senior agar ketika junior berkiprah di dunia kampus tidak mengulangi kesalahan yang kalian atau pendahulu lakukan


Sudah cukup jelas kan ya pesan diatas? Semoga kita termasuk sebagai golongan orang-orang yang selalu menjaga niat baik kita di setiap perbuatan yang kita lakukan termasuk saat mengikuti kaderisasi :)

Closing

Itu dia jenis-jenis lupa yang masih sering ditemukan di kaderisasi kampus kita tercinta. Gimana kalian para praktisi sudah pernah mengalami semua jenis lupa yang disebutkan disini belum? Kalo masih ada jenis lupa lain boleh loh ditambahkan di komentar! ;)

Akhir kata, semoga setelah membaca ini bukan kebencian yang hadir dalam hati kita melainkan semangat untuk memperbaiki diri dan sekitar :)




Balikpapan, 19 Ramadhan 1435H

yang sedang mengamati hegemoni di kampus dari pulau sebrang,
Firdaus F. Designerindy
12211067
Sumber: https://www.facebook.com/notes/10152328021563687/

Sunday, June 1, 2014

REPOST: TITIK KRITIS

Berikut adalah REPOST dari sebuah Tumblr seorang yg bisa membuat kita semua terinspirasi :)
Iseng2 juga untuk memenuhi blog yang semakin tahun bisa berkurang atau bahkan jarang untuk menulis :(
langsung saja, Ini dia:
TITIK KRITIS by Faldo Maldini
Sebenarnya saya selalu menikmati titik-titik penuh tekanan/titik kritis dalam hidup saya. Saat dikejar deadline, saat harus menentukan pilihan dengan cepat, saat mengerjakan sesuatu pertama kalinya, saat mencoba teknik baru di Lab, saat mendapatkan hasil baru/temuan, atau bahkan saat gagal. Hal ini juga termasuk pula saat dimana saya merasa sedang tidak dalam kondisi aman. Atau bahkan lebih parah, saat saya merasa sedang berjalan di tempat yang salah?
Di titik kritis ini, seringkali saya jadi makin banyak menyadari betapa tidak ada apa-apanya diri saya tanpa kuasa-Nya.
Selalu! Ya selalu, kala berada di momen sangat-sangat tertekan bahkan hingga tidak tahu berbuat apa, ada satu hal yang senantiasa saya upayakan untuk ingat dan lakukan, menyebut nama-Nya. “Allah…bantu hamba”.
Seperti Son Goku san manusia saiya, suka berantem hingga remuk, dan bahkan hampir mati. Namun jika bisa sembuh dari kondisi hampir mati, dia akan berkali-kali lipat jauh lebih kuat.
Ya Allah. Untuk kali ini, tolong kuatkan pundak ini dan tolong kokohkan langkah ini. Semoga semua ini menjadikan saya makin kuat dan tinggalkan lemah ke depannya.
Saya harus memilih.. Segera.
Ayo tekanan.. Sini! Mari kita bertarung! Secara jantan tentunya :)

Ada yang membuat saya tersadar, bahwa...
Saya hanya manusia biasa, Orang yang mudah tertawa pun, 
juga sangat mudah untuk menangis :")
"ALLAH tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya."
Dengan titik kritis inilah, ibarat bola kasti yang semakin dihentakan sekeras-kerasnya maka pantulannya akan semakin tinggi...  (by R.A.B)
Untuk itu, Nikmati dan Syukuri.  Allah sedang menunjukkan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yg sedang diuji. #ALHAMDULILLAH  :)

Saturday, April 12, 2014

Masih Butiran Debu

Saya suka menanggapi apa yang orang tulis, yang berkaitan dengan diri saya . :)
OK, sedikit terhebohkan dengan rillis yang terbit di sosmed..
Hanya ingin meluruskan infonya aja koq.. Takut ketika orang membaca itu, ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya.. Itulah peran media. Saya suka berhati2 dg media saat ini. hehe :P

Yupp, langsung aja saya klarifikasi.. dengan Judul
"Saya Masih Butiran Debu"
Menanggapi sebuah artikel yg ditulis oleh seorang yg magang di Media ternama, "MOMENTUM FT", merupakan media kebanggaan Fakultas Teknik~ :D. Untu itu, saya memakluminya..
dengan judul:

[TOKOH] Noor Oktova, Prestasi Yes, Organisasi Yes! #magangmomentum Oleh: Qabila Dzulhasri Z

tkk [TOKOH] Noor Oktova, Prestasi Yes, Organisasi Yes! #magangmomentum
Tiap kali mendengar kata prestasi, tentu yang muncul di kepala kita adalah sederet medali, piala dan piagam. Berprestasi pun tak melulu dalam bidang akademis. Sebagai mahasiswa, Noor Oktova Fauziyah (Klarifikasi: NOOR OKTOVA FAJRIYAH) yang akrab disapa Ova tak hanya berprestasi di bidang akademik, tapi juga di bidang organisasi.
Sejak SD, Ova, mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik yang sedang menempuh tahun ketiganya ini sudah mulai aktif berorganisasi dengan mengikuti ekstrakurikuler Pramuka dan menjadi regu inti. Kegiatan tersebut ia lanjutkan hingga SMP. Saat memasuki jenjang SMA, Ova menjabat sebagai ketua subsie/ OSIS- Subsie Bahasa Jepang SMA N 3 Semarang periode 2009-2010 dan menjadi ketua divisi/ Divisi Dakwah-ROHIS SMA N 3 Semarang periode 2009-2010. Perjalanannya dalam berorganisasi berlanjut hingga ia resmi menjadi mahasiswa. Tahun 2012 pada semester keduanya, Ova sudah aktif berorganisasi dengan menjadi Staff Muda Departemen Humas dan Kesejahteraan Mahasiswa HMA Amoghasida.  Tak hanya itu, ia juga menjadi staf  Departemen Syi’ar INSANI UNDIP 2012 dan staf  Departemen Syi’ar FKIA 2012. 
Kecintaan gadis kelahiran Semarang, 6 Oktober 1992 ini akan dunia organisasi tak hanya berhenti sampai disitu. Tahun selanjutnya, Ova kembali terpilih menjadi staff Departemen Humas dan Kesejahteraan Mahasiswa HMA Amoghasida 2013 dan staff Departemen Kaderisasi FKIA 2013. Tak hanya itu, ia juga menjadi staff Departemen Sosial BEM FT KM UNDIP 2013. Dan tahun ini, Ova melanjutkan kontribusinya untuk Fakultas Teknik dengan menjadi Litbang Departemen Sosial BEM FT KM UNDIP 2014.
(Mungkin maksudnya mau bercerita ttg riwayat organisasi saya. Maaf kalo yg membaca jadi rancu memaknainya. Jadi sebenernya begini: 
-          Anggota /Regu Inti Pramuka SMP N 1 Semarang / 2007-2008
-          Ketua Subsie /OSIS- Subsie Bahasa Jepang SMA N 3 Semarang/ 2009-2010
-          Ketua Divisi/ Divisi Dakwah-ROHIS SMA N 3 Semarang/ 2009-2010
-          Staff muda/ Departemen Humas dan Kesejahteraan Mahasiswa HMA Amoghasida/ 2012
-          Staff / Departemen Syi’ar INSANI UNDIP/ 2012
-          Staff/ Departemen Syi’ar FKIA/ 2012
-          Staff/ Departemen Humas dan Kesejahteraan Mahasiswa HMA Amoghasida/ 2013
-          Staff/ Departemen Kaderisasi FKIA/ 2013
-          Staff/ Departemen Sosial BEM FT KM UNDIP/ 2013
-          Litbang/ Departemen Sosial BEM FT KM UNDIP/ 2014)

Mengetahui sederet kegiatan yang diikuti oleh Ova, tentu terbayang kesibukan yang harus dihadapinya. Hebatnya, kesibukan itu tak lantas menjadi alasan bagi Ova untuk tidak berprestasi. Sejak SMP, Regu Pramukanya telah beberapa kali menjuarain perlombaaan, diantaranya Lomba Pramuka SMP 15, SMK 7 dan SMA 3 Semarang. Ia juga pernah mendapat Juara 2 Lomba Manga di Nihongo Matsuri tingkat Jateng 2009. Tak ketinggalan di bidang Akademis, Ova jua pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Fisika hingga ke tingkat Nasional. Dan di bangku kuliah, dengan semua organisasi yang ia ikuti, ia bisa memenangkan Sayembara Eco House Design Competition IV UGM Tingka Nasional 2013. (Naah.. ini rawan kesalahan info disini nih. Terutama ttg OSN Fisika, itu waktu SMP, hanya tercatat sbg peserta koq, dan g lebih. ;) Jadi saya masih butiran debu nih :')) Dan, semua kejuaraan  yg saya peroleh (cuma 2 sih =_="), itu semuanya adalah TIM. Jadi berkat bantuan dan kerja keras TIM, kami Alhamdulillah beruntung.) :D

Yang lebih membanggakan lagi, pada Oktober mendatang Ova akan ke Jepang untuk melaksanakan pertukaran pelajar setelah lolos seleksi Short Term Program ke Ryukyus University, Okinawa, Japan. (Mengenai hal ini, masih dalam konfirmasi. Mohon doanya saja ya kawan2, semoga dilancarkan dan dimudahkan.) #AAMIIN YA ALLAH :"D
Untuk emnajdi mahasiswa berprestasi, Ova yang memiliki motto hidup “If you don’t take a risk, you risk even more”, ternyata melakukan beberapa hal untuk mencapai tujuan-tujuannya. Ia menulis impian-impinya secara berkala. Namun, ia tidak sekedar menulis apa yang dia inginkan. Apa yang telah ditulis sebisa mungkin harus terwujud. Menurut Ova, sebelum menuliskan impian-impian kita, kita harus mengetahui apa yang benar-benar diri kita inginkan. Setelah kita mengetahui apa yang kita inginkan, kita dapat menyesuaikannya dengan potensi yang telah kita miliki. Jika keduanya telah terpenuhi, impian yang kita tulis tidak akan sekedar menjadi impian dan akan lebih mungkin untuk dicapai. (Motto hidup saya ada 3 sebenernya: 
-          If you don’t take a risk, you risk even more.
-          Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
-          Bismillah, LILLAH tanpa LELAH
-          Man Jadda Wa Jada, Dream à Learn à Action à Share (Tambahan Baru)


Untuk mengatasi kesibukannya baik kuliah maupun organisasi, Ova juga mempunyai langkah-langkah khusus. Ia menyusun jadwalnya dengan skala pioritas. Pertama, yang harus dilakukan adalah menulis semua deadline tugas-tugas. Setelah menulis semua deadline, susun berdasarkan skala prioritas. Tugas mana yang lebih dulu dikumpulkan, disusun mana yang lebih diprioritaskan.
Jika hal-hal tersebut sudah dilakukan, selanjutnya barulah disesuaikan dengan agenda organisasi. Baik agenda rapat yang lebih dulu harus dihadiri, maupun hal-hal yang ingin ia lakukan. Jika jadwal sudah dibuat, barulah laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dalam menjalankan jadwal yang telah kita buat, ada kalanya kita merasa penat, atau sampai pada titik jenuh di saat tugas-tugas dan kesibukan organisasi muncul bersamaan. Untuk mengatasi itu, Ova lebih senang sharing. Menurutnya, dengan sharing, pikirannya dapat lebih terbuka setelah mengetahui pandangan-pandangan dari orang lain. Ova juga berpesan, untuk mencapai kesuksesan, jangan hanya mengejar impian dengan omongan, tapi buktikan! (Ini agak lebaayyy deh.. kayae aku g bilang gitu. wkwkwkwk :P Tapi mungkin si penulis nangkepnya gitu.) Duuhh.. =__=" 
Dari tulisan diatas, ingin saya garis bawahi, bahwa saya hanya makhluk Allah yang sangat keciiiiiiiiiiiiiillllll sekaallliiii~ (sekecil orangnya)~ ;P hehehe. Saya sangat menyadari, bahwa "Di atas langit masih ada langit." Ini yang akan selalu mengingatkan saya untuk tidak berhenti "BERJUANG". Karena perjuangan itulah yang bisa membangkitkan semangatku! :D
Daaann, saya selalu ingat, bahwa saya tidaklah sendiri. Yang menempa saya sampai saat ini adalah orang-orang disekitar saya, yang berjuang bersama, memberikan yang terbaik yang kita punya. Karena "mereka"lah yang mengingatkanku untuk selalu kuat, bertahan, dan bangkit. :) 
Untuk itulah, Tanpa mereka, saya hanyalah "Butiran Debu"
Yeeeaaaaaaahhh~ Let's show our best!!! YOSH! ^_^

私達はできるよ!あきらめないで!がんばりましょう〜^^